andai aku jadi bupati tolitoli
Minggu, 28 Agustus 2016
Selasa, 23 Agustus 2016
Berbrsatu dalam perbedaan itu indah
Om swasti astu, salammualaikum
wrwb, selamat pagi, siang dan malam hari semoga tuhan selalu memberkati
Ok tidak usa pakai intro lama
lama langsung saja knalkan nama saya Perkenalkan nama saya Kadek Sandiasa tapi
akrab di sapa Sanditya Dika anak pertama hasil cetakan mama dan papa alamat
saya di desa Sibea. Saya beragama HINDU
tapi saya tidak anti dengan agama lain Saya mencintai semua agama kecuali agama
yg sesat. satu hal yang menjadi motto saya yaitu “ TUJUAN KITA SAMA TAPI CARA
KITA YANG BERBEDA” ibarat ingin pergi ke pasar susumbolan banyak cara yang dapt
kita tempuh ada yang dari sandana ada yang dari tuweley ada yang dari tambun
bahkan ada yang dari lutungan. Berbeda asal dan jalur tapi tujuan kita satu
kuncinya pakai helem dan tidak melanggar rambu rambu lalulintas.
saya adalah salah satu mahasiswa di STIP
Mujahidin tolitoli, tulisan ini saya buat ketika saya mendengar ada salah satu
umat yang merasa bahwa kepercayaanya lah yang paling benar dan mengganggap
kepercayaan orang lain itu salah. Dari tulisan ini saya sangat mengharapkan
semua agama itu dapat hidup saling berdampingan dan tidak saling mencela serta
selalu merasa bahwa kepercayaannya yang paling benar.
Berbicara mengenai agama maka
kita berbicara mengenai suatu hal yang kebenarannya itu hanya ada dalam diri
masing masing pemeluknya. Di Indonesia sendiri ada beraneka macam agama yang
akhir akhir ini mulai muncul konflik sampai menimbulkan korban jiwa, merasa
bahwa kepercayaannya lah yang paling benar, yang paling suci dan menganggap
kepercayaaan yang lain itu salah maka kekerasan dan pembunuhan yang mengatas
namakan agama pun terjadi. Dari peristiwa tersebut muncul pertanyan besar di
kepala saya apakah membunuh sesama dan melakukan kekerasan itu yang dianggap
benar???
Pada dasarnya semua agama
mengajarkan umatnya untuk saling mengasihi, untuk saling menyayangi sesama
manusia bahkan hewan sekalipun tidak ada
satupun agama yang mengizinkan umatnya untuk saling menyakiti satu sama lain
kecuali agama yang beraliran sesat. Sebenarnya tujuan kita sama yaitu untuk
kembali kepada zat yang menciptakan kita,
kehidupan kita didunia hanya sementara bukan untuk menyombongkan diri
bukan untuk memperlihatkan bahwa diri kita yang paling benar akan tetapi
bagaimna caranya kita mengumpulkan amal dan ibadah kita yang kelak akan menjadi
bekal kita di akhirat.
Tujuan kita sama tapi cara kita
berbeda, mengagungkan dan memuji kekuasaan sang pencipta sama sama kita lakukan
tapi terkadang caranya itu yang berbeda isalam melakukannya di masjid, hindu
melakukannya di pura, Kristen melakukannya di gereja dan budha melakukannya di
kuil atau wihara.
Islam melarang umatnya untuk memakan daging babi tapi hindu,
Kristen dan budha mengizinkannya. Hindu melarang umatnya untuk menkonsumsi
daging sapi sebab merupakan kendaraan dewa wisnu tapi islam, dan Kristen
mengizinkannya. Islam melarang umatnya untuk membuka aurat ketika memasuki
tempat ibadah tapi hindu, Kristen, dan budha tidak mempermasalahkan hal itu.
Islam melarang umatnya untuk menyembah berhala atau patung tapi hindu, Kristen,
dan budha malah melakukan hal sebalikya. Hindu mengajarkan umatnya untuk
sembahyang 3 kali sehari tapi islam
mengajarkan untuk 5 kali sehari. Islam mengatakan memasuki tempat ibadah harus
melepas alas kaki tapi Kristen mengatakan untuk menggunakn alas kaki. Dari hal
diatas sebenarnya siapa yang benar dan siapa yang salah, menurut umat islam
cara mereka lah yang benar, menurut umat Kristen cara mereka yang benar menurut
umat hindu dan budha cara mereka lah yang benar lalu yang salah siapa??
Sebenrya salah dan benar itu kembali ke umat yang memeluk agamanya masing
masing.
Salah satu contoh true story ketika ada
peristiwa bom, kekerasan ataupun teroris
maka sebagian orang langsung mengatakan bahwa orang islam yang melakukannya
padahal itu belum tentu kebenaranya hanya dengan melihat pakaian yang dikenakan
oleh teroris itu dengan sorban berjenggot panjang dan lain sebagainya yang
mirip dengan pakain yang dikenakan para jamaah. Padahal islam tidak pernah
mengajarkan itu pada umatnya islam selalu mengajrkan kepada umatnya untuk
saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain. Ketika ada hal seprti ini
jangan langsung mendoktrin bahwa ajarannya yang salah tapi terkadang oknum atau
umatnya yang membuat seolah olah ajaranya itu salah di mata umat lain.
Sekarang
intinya marilah kita saling hidup perdampingan satu sama lain jangan selalu
merasa bahwa agama kita yang paling benar. Terkadang bersatu dalam sebuah
perbedaan itu merupakan hal yang paling indah. Ibarat pelangi hanya terdiri dari satu warna maka
pelangi itu jauh dari kata indah, tapi karna kumpulan warna yang berbeda dan
saling berdampingan lah yang membuat pelangi
itu indah
Tolitoli, 21 juli 2016
Kadek sanditya dika
Kegagalan ku menjadi ketua BEM STIP Mujahidin Tolitoli
Kali ini mungkin
saya tidak akan menulis tentang pertanian, agama ataupun kumpulan tugas tugas
ku selama di kampus, tapi kali ini saya akan menceritakan sedikit pengalaman
saya di kampus yang dimana menurut saya ini adalah salah satu pengalaman
terburuk yang pernah saya alami, di katakana sakit mungkin melebihi kata sakit
ibarat luka terkena pisau tajam lalu di percikan air jeruk, kalian bisa
membayangkan sendiri bagaimna sakitnya hal itu.
Sebelumnya saya
ingin memperkenalkan kampus saya, saya kuliah di Sekolah Tinggi ILmu Pertanian
Tolitoli, jurusan pertanian program studi agroteknologi dimana pada saat itu
saya masih semester 4 menuju semester 5.
Baik guys enggak usah pakai intro lama lama langsung saja kita mulai ceritanya
dan bagi kalian yang suka nonton film drama korea lalu pakai acara nangis
nangis munkin seperti itu lah sedikit jalan cerita dari pengalaman saya. Check
this out
Menjadi
seorang ketua BEM ataupun ketua Himpunan mungkin menjadi harapan semua mahasiswa dan itu pun yang saya harapkan. Sejak
pertama masuk kuliah dan pertama kali menjadi anggota BEM predikat predikat
menjadi ketua Bem sudah mulai diberikan kepada saya oleh beberapa senior senior
yang ada dikampus. Hubungan saya dengan beberapa senior senior dikampus sudah bisa dikatakan sangat
dekat bahkan setiap ada kegiatan kegiatan pasti mereka menunjuk saya untuk
mengikuti kegiatan itu padahal pada saat itu masih ada ketua Bem yang menjabat,
namun tanpa memberitahu ketua bem mereka sudah menugaskan saya untuk mengikuti
kegiatan tersebut, merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi saya bisa diberi
kesempatan untuk mewakili kampus. Hal seperti ini berlangsung terus menerus
sampai pada berakhirnya masa jabatan dari ketua Bem yang lama dan siap untu
digantikan.
Pada
saat akan pemilihan ketua Bem beberapa senior sempat melontarkan pertanyaan
kepada saya “ apakah kau siap untuk menjadi ketua Bem sandi….???”. diberikan
pertanyaan seperti itu tidak semudah membalikan telapak tangan untuk saya
menjawab kata iya. Dengan kata terbata bata saya mnjawab “ nanti saya piker
piker dula kak,,,. Karena menjadin ketua Bem bukan semudah semnjadi ketua kelas
di sekolah. Kita harus dapat menyatukan persepsi dari ketiga himpunan yang ada
dikampus, menyatukan semua mahasiswa yang bisa dikatakn bukan anak anak
lagi, mampu mengambil keputasan yang
tepat dari suatu masalah dan yang paling
penting adalah mampu bergerak berdasarkan nalurinya bukan ibarat boneka milik senior
kita.Namun beberapa hari kemudian disaat saya akan mengatakan kepada
senior kalau saya sudah siap maju menjadi ketua bem teryata mereka sudah
merokomendasikan teman satu ruangan saya untuk maju menjadi ketua bem.
Mendengar hal ini mulai muncul perasaan yang membuat kaki saya berat melangkah untuk maju menjadi ketua bem. Namun
perasaan ini saya buang jauh jauh saya berpikir senior senior pasti akan
mendukung saya untuk menjadi ketua bem sebab melihat kedekatan antara saya dan
senior sangat meyakinkan kalau mereka akan mendukung saya.
Namun disaat
pemilihan akan berlangsung mulai ku melihat ada hal yang tidak beres teman
teman yang dulu memberi semangat kini mulai berpaling dari mataku. Begitu pula
senior senior yang dulu selalu memberikan predikat ketua bem kepadaku pun mulai
berpaling dan malah mendukung lawanku. Kebetulan pada saat pemilihan hanya ada
dua calon yang keduanya berasal dari program studi yang sama dan bahkan dari
ruangan yang sama. Dalam hati yang paling dalam pun sempat berkata apakah ini
yang namanya kawan menjadi lawan. Perjuangan dan harapanku pun sedikit demi
sedikit mulai pupus. Yang aku harapkan para senior senior bisa menjadi wasit
ataupun penetral dari kerasnya persaingan dari ruangan bahkan prodi yang sama
namun semuanya tidak seperti yang kuharapkan ternyata mereka ikut bermain
didalamnya. Teman teman yang dulu mendukungku mulai berpaling dariku teryata
ada sebuah formula dan pengaruh yang diberikan oleh senior senior yang awalnya
dekat padaku untuk memelih lawanku dan memenangkan nya menjadi ketua bem.
Perasaan sakit dan kecewa mulai aku rasakan teryata begini rasanya dihiyanati
oleh kawan sendiri. Sempat pula meminta dukungan dari adik kelas yang awalnya
sangat dekat padaku dan terlontar dari ucapannya “ tenang saja kak saya pasti
dukung kita jadi ketua bem” sebuah ucapan yang membuat semangat menjadi ketua
bem mulai terbakar. Namun apa yang aku lihat keesokan harinya orang yang sempat
berkata seperti itu tiba tiba kulihat dengan ekor mataku membawa stiker lawanku yang hendak dipasang di tembok
tembok kampus. Melihat hal ini rasa kecewa yang sangat dalam mulai kurasakan entah
ada kesalahan apa yang kulakukan sehingga mereka melakukan ini kepadaku, semua
seperti terseting kalau aku akan kalah seperti ini dalam pemilihan ketua bem
Dan hari
pemilihan pun tiba mulai kulihat senior senior yang dulu dekat padaku
memerintahkan rekan rekanya untuk memelih lawanku. Rasa sesak dalam dadaku
mulai ku alami dalam hati sempat berkata kenapa ini semua harus terjadi padaku.
Dan disaat penghitungan suara selesai hasilnya pun sama seperti yang kupikirkan
aku kalah telak dengan lawanku. Sempat dalam hati berusaha untuk memberi
semangat mungkin ini merupakan keberhasilan yang tertunda.
Semua harapanku
pun akhirnya pupus, gagal menjadi ketua
bem mungkin bukan penyebab hati ini hancur tapi cara aku gagal yang masih
membuat dada ini sesak disaat aku mengingatnya.
Disaat duduk sendiri tiba tiba dari
sudut sudut mataku mengalir butir butir air bening yang kuhapus dengan tangan
dan kegagalan, hari demi hari mulai ku coba untuk lewati usai kegagalanku
menjadi seorang ketua bem. Mulai ku buka semangat baru dan kuayun langkah untuk
merajut harapan baru. Kini aku mulai
dapat melupakan apa yang sebelumnya terjadi padaku dan semoga senior seniorku
yang berpaling padaku mulai dapat menerima ku kembali menjadi adiknya serta
kubuktikan bahwa akupun bisa untuk menjadi seorang ketua. Seperti impianku akan
kubangun dan kubanggakan serta kubaktikan diriku untuk kampusku, namun teryata
apa yang kuterima mereka bukan yang dulu lagi seolah olah aku membuat sebuah
kesalahan yang sangat fatal dan mereka mulai menjauh dari ku. Dalam kegelapan
mata ini wajah ku panas ibarat terbakar apapun yang ada didepanku rasanya ingin
kuhempaskan . betapa aku terluka perjuanganku sia sia, apakah orang sepertiku
tidak bisa menjadi pemimpin di kampusku sendiri. Ternyata aku mulai sadar ini
lah nasib seorang minoritas yang hidup dalam bayang bayang mayoritas. Tapi aku harus mulai membuang kegetiran dan
pikiran pikaran buruk yang dalam otak ku, namun sayang langit yang kutatap
mulai berpaling dariku, dan dimanakah aku bisa menceritakan semua pengalaman
dan keluhan ini aku berharap ada yang mendengar, tapi sayang semua jalan sudah tertutup buat namaku tapi
satu hal yang kupelajari dari buku suci tidak ada perjuangan yang sia sia, tapi
nyatanya jiwaku seprti terpidana mungkin aku seperti mati dalam hidup.
Demikian kisah kegagalanku menjadi
seorang ketua bem yang kutulis agar kalian semua dapat merasakan sakit yang
kualami. Thanks for read
Langganan:
Postingan (Atom)





















