Selasa, 23 Agustus 2016

Berbrsatu dalam perbedaan itu indah

Om swasti astu, salammualaikum wrwb, selamat pagi, siang dan malam hari semoga tuhan selalu memberkati
Ok tidak usa pakai intro lama lama langsung saja knalkan nama saya Perkenalkan nama saya Kadek Sandiasa tapi akrab di sapa Sanditya Dika anak pertama hasil cetakan mama dan papa alamat saya di desa Sibea. Saya  beragama HINDU tapi saya tidak anti dengan agama lain Saya mencintai semua agama kecuali agama yg sesat. satu hal yang menjadi motto saya yaitu “ TUJUAN KITA SAMA TAPI CARA KITA YANG BERBEDA” ibarat ingin pergi ke pasar susumbolan banyak cara yang dapt kita tempuh ada yang dari sandana ada yang dari tuweley ada yang dari tambun bahkan ada yang dari lutungan. Berbeda asal dan jalur tapi tujuan kita satu kuncinya pakai helem dan tidak melanggar rambu rambu lalulintas.
 saya adalah salah satu mahasiswa di STIP Mujahidin tolitoli, tulisan ini saya buat ketika saya mendengar ada salah satu umat yang merasa bahwa kepercayaanya lah yang paling benar dan mengganggap kepercayaan orang lain itu salah. Dari tulisan ini saya sangat mengharapkan semua agama itu dapat hidup saling berdampingan dan tidak saling mencela serta selalu merasa bahwa kepercayaannya yang paling benar.
Berbicara mengenai agama maka kita berbicara mengenai suatu hal yang kebenarannya itu hanya ada dalam diri masing masing pemeluknya. Di Indonesia sendiri ada beraneka macam agama yang akhir akhir ini mulai muncul konflik sampai menimbulkan korban jiwa, merasa bahwa kepercayaannya lah yang paling benar, yang paling suci dan menganggap kepercayaaan yang lain itu salah maka kekerasan dan pembunuhan yang mengatas namakan agama pun terjadi. Dari peristiwa tersebut muncul pertanyan besar di kepala saya apakah membunuh sesama dan melakukan kekerasan itu yang dianggap benar???
Pada dasarnya semua agama mengajarkan umatnya untuk saling mengasihi, untuk saling menyayangi sesama manusia bahkan  hewan sekalipun tidak ada satupun agama yang mengizinkan umatnya untuk saling menyakiti satu sama lain kecuali agama yang beraliran sesat. Sebenarnya tujuan kita sama yaitu untuk kembali kepada zat yang menciptakan kita,  kehidupan kita didunia hanya sementara bukan untuk menyombongkan diri bukan untuk memperlihatkan bahwa diri kita yang paling benar akan tetapi bagaimna caranya kita mengumpulkan amal dan ibadah kita yang kelak akan menjadi bekal kita di akhirat.
Tujuan kita sama tapi cara kita berbeda, mengagungkan dan memuji kekuasaan sang pencipta sama sama kita lakukan tapi terkadang caranya itu yang berbeda isalam melakukannya di masjid, hindu melakukannya di pura, Kristen melakukannya di gereja dan budha melakukannya di kuil atau wihara.
Islam melarang umatnya untuk memakan daging babi tapi hindu, Kristen dan budha mengizinkannya. Hindu melarang umatnya untuk menkonsumsi daging sapi sebab merupakan kendaraan dewa wisnu tapi islam, dan Kristen mengizinkannya. Islam melarang umatnya untuk membuka aurat ketika memasuki tempat ibadah tapi hindu, Kristen, dan budha tidak mempermasalahkan hal itu. Islam melarang umatnya untuk menyembah berhala atau patung tapi hindu, Kristen, dan budha malah melakukan hal sebalikya. Hindu mengajarkan umatnya untuk sembahyang 3 kali sehari  tapi islam mengajarkan untuk 5 kali sehari. Islam mengatakan memasuki tempat ibadah harus melepas alas kaki tapi Kristen mengatakan untuk menggunakn alas kaki. Dari hal diatas sebenarnya siapa yang benar dan siapa yang salah, menurut umat islam cara mereka lah yang benar, menurut umat Kristen cara mereka yang benar menurut umat hindu dan budha cara mereka lah yang benar lalu yang salah siapa?? Sebenrya salah dan benar itu kembali ke umat yang memeluk agamanya masing masing.
                Salah satu contoh true story ketika ada peristiwa bom, kekerasan  ataupun teroris maka sebagian orang langsung mengatakan bahwa orang islam yang melakukannya padahal itu belum tentu kebenaranya hanya dengan melihat pakaian yang dikenakan oleh teroris itu dengan sorban berjenggot panjang dan lain sebagainya yang mirip dengan pakain yang dikenakan para jamaah. Padahal islam tidak pernah mengajarkan itu pada umatnya islam selalu mengajrkan kepada umatnya untuk saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain. Ketika ada hal seprti ini jangan langsung mendoktrin bahwa ajarannya yang salah tapi terkadang oknum atau umatnya yang membuat seolah olah ajaranya itu salah di mata umat lain.
               Sekarang intinya marilah kita saling hidup perdampingan satu sama lain jangan selalu merasa bahwa agama kita yang paling benar. Terkadang bersatu dalam sebuah perbedaan itu merupakan hal yang paling indah. Ibarat  pelangi hanya terdiri dari satu warna maka pelangi itu jauh dari kata indah, tapi karna kumpulan warna yang berbeda dan saling berdampingan  lah yang membuat pelangi itu indah

Tolitoli, 21 juli 2016


Kadek sanditya dika


Kegagalan ku menjadi ketua BEM STIP Mujahidin Tolitoli

Kali ini mungkin saya tidak akan menulis tentang pertanian, agama ataupun kumpulan tugas tugas ku selama di kampus, tapi kali ini saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya di kampus yang dimana menurut saya ini adalah salah satu pengalaman terburuk yang pernah saya alami, di katakana sakit mungkin melebihi kata sakit ibarat luka terkena pisau tajam lalu di percikan air jeruk, kalian bisa membayangkan sendiri bagaimna sakitnya hal itu.
Sebelumnya saya ingin memperkenalkan kampus saya, saya kuliah di Sekolah Tinggi ILmu Pertanian Tolitoli, jurusan pertanian program studi agroteknologi dimana pada saat itu saya masih semester 4 menuju semester  5. Baik guys enggak usah pakai intro lama lama langsung saja kita mulai ceritanya dan bagi kalian yang suka nonton film drama korea lalu pakai acara nangis nangis munkin seperti itu lah sedikit jalan cerita dari pengalaman saya. Check this out
               Menjadi seorang ketua BEM ataupun ketua Himpunan mungkin menjadi     harapan semua mahasiswa dan itu pun yang saya harapkan. Sejak pertama masuk kuliah dan pertama kali menjadi anggota BEM predikat predikat menjadi ketua Bem sudah mulai diberikan kepada saya oleh beberapa senior senior yang ada dikampus. Hubungan saya dengan beberapa senior  senior dikampus sudah bisa dikatakan sangat dekat bahkan setiap ada kegiatan kegiatan pasti mereka menunjuk saya untuk mengikuti kegiatan itu padahal pada saat itu masih ada ketua Bem yang menjabat, namun tanpa memberitahu ketua bem mereka sudah menugaskan saya untuk mengikuti kegiatan tersebut, merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi saya bisa diberi kesempatan untuk mewakili kampus. Hal seperti ini berlangsung terus menerus sampai pada berakhirnya masa jabatan dari ketua Bem yang lama dan siap untu digantikan.
               Pada saat akan pemilihan ketua Bem beberapa senior sempat melontarkan pertanyaan kepada saya “ apakah kau siap untuk menjadi ketua Bem sandi….???”. diberikan pertanyaan seperti itu tidak semudah membalikan telapak tangan untuk saya menjawab kata iya. Dengan kata terbata bata saya mnjawab “ nanti saya piker piker dula kak,,,. Karena menjadin ketua Bem bukan semudah semnjadi ketua kelas di sekolah. Kita harus dapat menyatukan persepsi dari ketiga himpunan yang ada dikampus, menyatukan semua mahasiswa yang bisa dikatakn bukan anak anak lagi,  mampu mengambil keputasan yang tepat  dari suatu masalah dan yang paling penting adalah mampu bergerak berdasarkan nalurinya bukan ibarat boneka milik senior kita.Namun beberapa hari kemudian disaat saya akan mengatakan kepada senior kalau saya sudah siap maju menjadi ketua bem teryata mereka sudah merokomendasikan teman satu ruangan saya untuk maju menjadi ketua bem. Mendengar hal ini mulai muncul perasaan yang membuat kaki saya berat  melangkah untuk maju menjadi ketua bem. Namun perasaan ini saya buang jauh jauh saya berpikir senior senior pasti akan mendukung saya untuk menjadi ketua bem sebab melihat kedekatan antara saya dan senior sangat meyakinkan kalau mereka akan mendukung saya.
Namun disaat pemilihan akan berlangsung mulai ku melihat ada hal yang tidak beres teman teman yang dulu memberi semangat kini mulai berpaling dari mataku. Begitu pula senior senior yang dulu selalu memberikan predikat ketua bem kepadaku pun mulai berpaling dan malah mendukung lawanku. Kebetulan pada saat pemilihan hanya ada dua calon yang keduanya berasal dari program studi yang sama dan bahkan dari ruangan yang sama. Dalam hati yang paling dalam pun sempat berkata apakah ini yang namanya kawan menjadi lawan. Perjuangan dan harapanku pun sedikit demi sedikit mulai pupus. Yang aku harapkan para senior senior bisa menjadi wasit ataupun penetral dari kerasnya persaingan dari ruangan bahkan prodi yang sama namun semuanya tidak seperti yang kuharapkan ternyata mereka ikut bermain didalamnya. Teman teman yang dulu mendukungku mulai berpaling dariku teryata ada sebuah formula dan pengaruh yang diberikan oleh senior senior yang awalnya dekat padaku untuk memelih lawanku dan memenangkan nya menjadi ketua bem. Perasaan sakit dan kecewa mulai aku rasakan teryata begini rasanya dihiyanati oleh kawan sendiri. Sempat pula meminta dukungan dari adik kelas yang awalnya sangat dekat padaku dan terlontar dari ucapannya “ tenang saja kak saya pasti dukung kita jadi ketua bem” sebuah ucapan yang membuat semangat menjadi ketua bem mulai terbakar. Namun apa yang aku lihat keesokan harinya orang yang sempat berkata seperti itu tiba tiba kulihat dengan ekor mataku membawa  stiker lawanku yang hendak dipasang di tembok tembok kampus. Melihat hal ini rasa kecewa yang sangat dalam mulai kurasakan entah ada kesalahan apa yang kulakukan sehingga mereka melakukan ini kepadaku, semua seperti terseting kalau aku akan kalah seperti ini dalam pemilihan ketua bem
Dan hari pemilihan pun tiba mulai kulihat senior senior yang dulu dekat padaku memerintahkan rekan rekanya untuk memelih lawanku. Rasa sesak dalam dadaku mulai ku alami dalam hati sempat berkata kenapa ini semua harus terjadi padaku. Dan disaat penghitungan suara selesai hasilnya pun sama seperti yang kupikirkan aku kalah telak dengan lawanku. Sempat dalam hati berusaha untuk memberi semangat mungkin ini merupakan keberhasilan yang tertunda.
Semua harapanku pun akhirnya pupus,  gagal menjadi ketua bem mungkin bukan penyebab hati ini hancur tapi cara aku gagal yang masih membuat dada ini sesak disaat aku mengingatnya.
Disaat duduk sendiri tiba tiba dari sudut sudut mataku mengalir butir butir air bening yang kuhapus dengan tangan dan kegagalan, hari demi hari mulai ku coba untuk lewati usai kegagalanku menjadi seorang ketua bem. Mulai ku buka semangat baru dan kuayun langkah untuk merajut  harapan baru. Kini aku mulai dapat melupakan apa yang sebelumnya terjadi padaku dan semoga senior seniorku yang berpaling padaku mulai dapat menerima ku kembali menjadi adiknya serta kubuktikan bahwa akupun bisa untuk menjadi seorang ketua. Seperti impianku akan kubangun dan kubanggakan serta kubaktikan diriku untuk kampusku, namun teryata apa yang kuterima mereka bukan yang dulu lagi seolah olah aku membuat sebuah kesalahan yang sangat fatal dan mereka mulai menjauh dari ku. Dalam kegelapan mata ini wajah ku panas ibarat terbakar apapun yang ada didepanku rasanya ingin kuhempaskan . betapa aku terluka perjuanganku sia sia, apakah orang sepertiku tidak bisa menjadi pemimpin di kampusku sendiri. Ternyata aku mulai sadar ini lah nasib seorang minoritas yang hidup dalam bayang bayang mayoritas. Tapi  aku harus mulai membuang kegetiran dan pikiran pikaran buruk yang dalam otak ku, namun sayang langit yang kutatap mulai berpaling dariku, dan dimanakah aku bisa menceritakan semua pengalaman dan keluhan ini aku berharap ada yang mendengar, tapi sayang  semua jalan sudah tertutup buat namaku tapi satu hal yang kupelajari dari buku suci tidak ada perjuangan yang sia sia, tapi nyatanya jiwaku seprti terpidana mungkin aku seperti mati dalam hidup.
Demikian kisah kegagalanku menjadi seorang ketua bem yang kutulis agar kalian semua dapat merasakan sakit yang kualami. Thanks for read