Kali ini mungkin
saya tidak akan menulis tentang pertanian, agama ataupun kumpulan tugas tugas
ku selama di kampus, tapi kali ini saya akan menceritakan sedikit pengalaman
saya di kampus yang dimana menurut saya ini adalah salah satu pengalaman
terburuk yang pernah saya alami, di katakana sakit mungkin melebihi kata sakit
ibarat luka terkena pisau tajam lalu di percikan air jeruk, kalian bisa
membayangkan sendiri bagaimna sakitnya hal itu.
Sebelumnya saya
ingin memperkenalkan kampus saya, saya kuliah di Sekolah Tinggi ILmu Pertanian
Tolitoli, jurusan pertanian program studi agroteknologi dimana pada saat itu
saya masih semester 4 menuju semester 5.
Baik guys enggak usah pakai intro lama lama langsung saja kita mulai ceritanya
dan bagi kalian yang suka nonton film drama korea lalu pakai acara nangis
nangis munkin seperti itu lah sedikit jalan cerita dari pengalaman saya. Check
this out
Menjadi
seorang ketua BEM ataupun ketua Himpunan mungkin menjadi harapan semua mahasiswa dan itu pun yang saya harapkan. Sejak
pertama masuk kuliah dan pertama kali menjadi anggota BEM predikat predikat
menjadi ketua Bem sudah mulai diberikan kepada saya oleh beberapa senior senior
yang ada dikampus. Hubungan saya dengan beberapa senior senior dikampus sudah bisa dikatakan sangat
dekat bahkan setiap ada kegiatan kegiatan pasti mereka menunjuk saya untuk
mengikuti kegiatan itu padahal pada saat itu masih ada ketua Bem yang menjabat,
namun tanpa memberitahu ketua bem mereka sudah menugaskan saya untuk mengikuti
kegiatan tersebut, merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi saya bisa diberi
kesempatan untuk mewakili kampus. Hal seperti ini berlangsung terus menerus
sampai pada berakhirnya masa jabatan dari ketua Bem yang lama dan siap untu
digantikan.
Pada
saat akan pemilihan ketua Bem beberapa senior sempat melontarkan pertanyaan
kepada saya “ apakah kau siap untuk menjadi ketua Bem sandi….???”. diberikan
pertanyaan seperti itu tidak semudah membalikan telapak tangan untuk saya
menjawab kata iya. Dengan kata terbata bata saya mnjawab “ nanti saya piker
piker dula kak,,,. Karena menjadin ketua Bem bukan semudah semnjadi ketua kelas
di sekolah. Kita harus dapat menyatukan persepsi dari ketiga himpunan yang ada
dikampus, menyatukan semua mahasiswa yang bisa dikatakn bukan anak anak
lagi, mampu mengambil keputasan yang
tepat dari suatu masalah dan yang paling
penting adalah mampu bergerak berdasarkan nalurinya bukan ibarat boneka milik senior
kita.Namun beberapa hari kemudian disaat saya akan mengatakan kepada
senior kalau saya sudah siap maju menjadi ketua bem teryata mereka sudah
merokomendasikan teman satu ruangan saya untuk maju menjadi ketua bem.
Mendengar hal ini mulai muncul perasaan yang membuat kaki saya berat melangkah untuk maju menjadi ketua bem. Namun
perasaan ini saya buang jauh jauh saya berpikir senior senior pasti akan
mendukung saya untuk menjadi ketua bem sebab melihat kedekatan antara saya dan
senior sangat meyakinkan kalau mereka akan mendukung saya.
Namun disaat
pemilihan akan berlangsung mulai ku melihat ada hal yang tidak beres teman
teman yang dulu memberi semangat kini mulai berpaling dari mataku. Begitu pula
senior senior yang dulu selalu memberikan predikat ketua bem kepadaku pun mulai
berpaling dan malah mendukung lawanku. Kebetulan pada saat pemilihan hanya ada
dua calon yang keduanya berasal dari program studi yang sama dan bahkan dari
ruangan yang sama. Dalam hati yang paling dalam pun sempat berkata apakah ini
yang namanya kawan menjadi lawan. Perjuangan dan harapanku pun sedikit demi
sedikit mulai pupus. Yang aku harapkan para senior senior bisa menjadi wasit
ataupun penetral dari kerasnya persaingan dari ruangan bahkan prodi yang sama
namun semuanya tidak seperti yang kuharapkan ternyata mereka ikut bermain
didalamnya. Teman teman yang dulu mendukungku mulai berpaling dariku teryata
ada sebuah formula dan pengaruh yang diberikan oleh senior senior yang awalnya
dekat padaku untuk memelih lawanku dan memenangkan nya menjadi ketua bem.
Perasaan sakit dan kecewa mulai aku rasakan teryata begini rasanya dihiyanati
oleh kawan sendiri. Sempat pula meminta dukungan dari adik kelas yang awalnya
sangat dekat padaku dan terlontar dari ucapannya “ tenang saja kak saya pasti
dukung kita jadi ketua bem” sebuah ucapan yang membuat semangat menjadi ketua
bem mulai terbakar. Namun apa yang aku lihat keesokan harinya orang yang sempat
berkata seperti itu tiba tiba kulihat dengan ekor mataku membawa stiker lawanku yang hendak dipasang di tembok
tembok kampus. Melihat hal ini rasa kecewa yang sangat dalam mulai kurasakan entah
ada kesalahan apa yang kulakukan sehingga mereka melakukan ini kepadaku, semua
seperti terseting kalau aku akan kalah seperti ini dalam pemilihan ketua bem
Dan hari
pemilihan pun tiba mulai kulihat senior senior yang dulu dekat padaku
memerintahkan rekan rekanya untuk memelih lawanku. Rasa sesak dalam dadaku
mulai ku alami dalam hati sempat berkata kenapa ini semua harus terjadi padaku.
Dan disaat penghitungan suara selesai hasilnya pun sama seperti yang kupikirkan
aku kalah telak dengan lawanku. Sempat dalam hati berusaha untuk memberi
semangat mungkin ini merupakan keberhasilan yang tertunda.
Semua harapanku
pun akhirnya pupus, gagal menjadi ketua
bem mungkin bukan penyebab hati ini hancur tapi cara aku gagal yang masih
membuat dada ini sesak disaat aku mengingatnya.
Disaat duduk sendiri tiba tiba dari
sudut sudut mataku mengalir butir butir air bening yang kuhapus dengan tangan
dan kegagalan, hari demi hari mulai ku coba untuk lewati usai kegagalanku
menjadi seorang ketua bem. Mulai ku buka semangat baru dan kuayun langkah untuk
merajut harapan baru. Kini aku mulai
dapat melupakan apa yang sebelumnya terjadi padaku dan semoga senior seniorku
yang berpaling padaku mulai dapat menerima ku kembali menjadi adiknya serta
kubuktikan bahwa akupun bisa untuk menjadi seorang ketua. Seperti impianku akan
kubangun dan kubanggakan serta kubaktikan diriku untuk kampusku, namun teryata
apa yang kuterima mereka bukan yang dulu lagi seolah olah aku membuat sebuah
kesalahan yang sangat fatal dan mereka mulai menjauh dari ku. Dalam kegelapan
mata ini wajah ku panas ibarat terbakar apapun yang ada didepanku rasanya ingin
kuhempaskan . betapa aku terluka perjuanganku sia sia, apakah orang sepertiku
tidak bisa menjadi pemimpin di kampusku sendiri. Ternyata aku mulai sadar ini
lah nasib seorang minoritas yang hidup dalam bayang bayang mayoritas. Tapi aku harus mulai membuang kegetiran dan
pikiran pikaran buruk yang dalam otak ku, namun sayang langit yang kutatap
mulai berpaling dariku, dan dimanakah aku bisa menceritakan semua pengalaman
dan keluhan ini aku berharap ada yang mendengar, tapi sayang semua jalan sudah tertutup buat namaku tapi
satu hal yang kupelajari dari buku suci tidak ada perjuangan yang sia sia, tapi
nyatanya jiwaku seprti terpidana mungkin aku seperti mati dalam hidup.
Demikian kisah kegagalanku menjadi
seorang ketua bem yang kutulis agar kalian semua dapat merasakan sakit yang
kualami. Thanks for read




Tidak ada komentar:
Posting Komentar